<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Info Panti Pijat Bayi</title>
	<atom:link href="http://probolinggo.wordpress.com/2008/03/02/info-panti-pijat-bayi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://probolinggo.wordpress.com/2008/03/02/info-panti-pijat-bayi/</link>
	<description>Blog Tempat Mangkal Arek-Arek Probolinggo</description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 Oct 2008 14:21:36 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: dhany</title>
		<link>http://probolinggo.wordpress.com/2008/03/02/info-panti-pijat-bayi/#comment-4</link>
		<dc:creator>dhany</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 03:10:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://probolinggo.wordpress.com/?p=5#comment-4</guid>
		<description>di Leces juga ada, cuman kalo ngantri mulai jam 5 pagi baru dipijat jam 11 siang
Lokasinya di jl. Kyaisari
Untuk yg medic nggak usah takut tersaingi karena semua sudah ada rejekinya masing-masing</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>di Leces juga ada, cuman kalo ngantri mulai jam 5 pagi baru dipijat jam 11 siang<br />
Lokasinya di jl. Kyaisari<br />
Untuk yg medic nggak usah takut tersaingi karena semua sudah ada rejekinya masing-masing</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: draguscn</title>
		<link>http://probolinggo.wordpress.com/2008/03/02/info-panti-pijat-bayi/#comment-2</link>
		<dc:creator>draguscn</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 May 2008 07:08:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://probolinggo.wordpress.com/?p=5#comment-2</guid>
		<description>Hehehe .. menarik juga .. 
Salam kenal juga Mas Shetiawan .. Trims commentnya di &lt;a href=&quot;http://puskesmasdotinfo.wordpress.com&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;blog saya&lt;a&gt;. Kapan kalo sudah mulai anda harus mau diundang untuk meramaikan .. 

Kalo sudah bicarain dukun saya agak-agak kurang sepakat nih di&quot;promosi&quot;-kan. maklum tugas saya sebagai kepala puskesmas adalah menjamin jangan sampai ada masyarakat di wilayah kerja saya ditangani oleh orang yang tidak kompeten.

Memang sekarang jadi pertanyaan, yang tidak kompeten itu siapa? &lt;strike&gt;mbah&lt;/strike&gt; mbak dukun apa bu bidan &amp; pak mantri yang masih muda-muda itu ?
Di puskesmas baru-baru ini dikenalkan konsep enterpreneur.
Beberapa puskesmas malah sudah ada yang diujicoba untuk menjadi puskesmas enterpreneur. Sayang di tempat saya cuma kebagian sosialisasi.
Namun begitu saya dapat mengambil pelajaran berharga dari sana. Konsep enterpreneur adalah penilaian berdasarkan kinerja dan terjaminnya kepuasan pelanggan. beberapa tehnik dijabarkan disini. Namun yang sangat penting adalah kepuasan pelanggan selama ini lebih banyak dilakukan oleh pelaku non kesehatan. Misalnya yang berbasis produk. Mereka malah bisa sangat besar penganggaran iklan.
Atau yang berbasis jasa (seperti mbak dukun ini). Entah kepuasan pelanggan bisa dicapai dengan harga murah atau senyum ramah si mbak, itu sudah jelas ngalah-ngalahin pelayanan dari bu bidan dan pak mantri. 
Sudah sering kita dengar kalo bidan-bidan di kamar bersalin judes-judes. (mungkin karena yang ndengerin sedang ngeden kesakitan) atau banyak perilaku yang tidak menyenangkan yang diterima oleh keluarga miskin di rumah sakit. Ini contoh betapa insan kesehatan masih jauh dr mengerti bahwa meskipun yang datang itu orang sakit, merekalah yang jadi sumber rejeki dari pelaku kesehatan.
Saya pernah di stopan lampu merah ditawari brosur panti pijat. Ini jelas strategi periklanan murah meriah. Mungkin bisa menangkap 1-2 pelanggan dari sana. Dari manajemen pemasaran ini konsep yang salah sih .. tapi kalo melihat pelakunya adalah panti pijat, dukun dll mestinya pelaku kesehatan harus mulai introspeksi seberapa banyak cutomer loyalty diperhatikan di unit kerja masing-masing.

Wah nda terasa panjang juga udah curhatnya.. 
Oke saya tunggu blog-walkingnya , ajak temen-temen dong .. kita bikin komunitas probolinggo melek internet .. 

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hehehe .. menarik juga ..<br />
Salam kenal juga Mas Shetiawan .. Trims commentnya di <a href="http://puskesmasdotinfo.wordpress.com" rel="nofollow">blog saya</a><a>. Kapan kalo sudah mulai anda harus mau diundang untuk meramaikan .. </p>
<p>Kalo sudah bicarain dukun saya agak-agak kurang sepakat nih di&#8221;promosi&#8221;-kan. maklum tugas saya sebagai kepala puskesmas adalah menjamin jangan sampai ada masyarakat di wilayah kerja saya ditangani oleh orang yang tidak kompeten.</p>
<p>Memang sekarang jadi pertanyaan, yang tidak kompeten itu siapa? <strike>mbah</strike> mbak dukun apa bu bidan &amp; pak mantri yang masih muda-muda itu ?<br />
Di puskesmas baru-baru ini dikenalkan konsep enterpreneur.<br />
Beberapa puskesmas malah sudah ada yang diujicoba untuk menjadi puskesmas enterpreneur. Sayang di tempat saya cuma kebagian sosialisasi.<br />
Namun begitu saya dapat mengambil pelajaran berharga dari sana. Konsep enterpreneur adalah penilaian berdasarkan kinerja dan terjaminnya kepuasan pelanggan. beberapa tehnik dijabarkan disini. Namun yang sangat penting adalah kepuasan pelanggan selama ini lebih banyak dilakukan oleh pelaku non kesehatan. Misalnya yang berbasis produk. Mereka malah bisa sangat besar penganggaran iklan.<br />
Atau yang berbasis jasa (seperti mbak dukun ini). Entah kepuasan pelanggan bisa dicapai dengan harga murah atau senyum ramah si mbak, itu sudah jelas ngalah-ngalahin pelayanan dari bu bidan dan pak mantri.<br />
Sudah sering kita dengar kalo bidan-bidan di kamar bersalin judes-judes. (mungkin karena yang ndengerin sedang ngeden kesakitan) atau banyak perilaku yang tidak menyenangkan yang diterima oleh keluarga miskin di rumah sakit. Ini contoh betapa insan kesehatan masih jauh dr mengerti bahwa meskipun yang datang itu orang sakit, merekalah yang jadi sumber rejeki dari pelaku kesehatan.<br />
Saya pernah di stopan lampu merah ditawari brosur panti pijat. Ini jelas strategi periklanan murah meriah. Mungkin bisa menangkap 1-2 pelanggan dari sana. Dari manajemen pemasaran ini konsep yang salah sih .. tapi kalo melihat pelakunya adalah panti pijat, dukun dll mestinya pelaku kesehatan harus mulai introspeksi seberapa banyak cutomer loyalty diperhatikan di unit kerja masing-masing.</p>
<p>Wah nda terasa panjang juga udah curhatnya..<br />
Oke saya tunggu blog-walkingnya , ajak temen-temen dong .. kita bikin komunitas probolinggo melek internet .. </p>
<p>Salam</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
